Archive for the ‘berpikir positif’ Category

Bukan bermaksud menulis kembali biografi tentang beliau, tapi melihat realita pemimpin saat ini. Saya, kita, umat islam pada umumnya akan merindukan sosok pemimpin seperti beliau, yang sangat dicintai rakyatnya. Pemimpin yang dapat mengayomi rakyatnya.

Pemimpin yang bisa berbuat adil, mendahulukan kepentingan rakyatnya. Dapat menegakkan syariat islam.

Di masa pemerintahan khalifah Harun Ar-Rasyid, banyak yang dicapai untuk kejayaan islam. Antara lain :

  • Mewujudkan keamanan, kedamaian serta kesejahteraan rakyat.
  • Membangun kota Baghdad yang terletak di antara sungai eufrat dan tigris dengan bangunan-bangunan megah.
  • Membangun tempat-tempat peribadatan.
  • Membangun sarana pendidikan, kesenian, kesehatan, dan perdagangan.
  • Mendirikan Baitul Hikmah, sebagai lembaga penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi, perpustakaan, dan penelitian.
  • Membangun majelis Al-Muzakarah, yakni lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, mesjid-mesjid, dan istana.

Khalifah Harun Ar-Rasyid lahir di Rayy pada tahun 766 dan wafat pada tanggal 24 maret 809, di Thus, Khurasan.

Harun Ar-Rasyid adalah kalifah kelima dari kekhalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786 hingga 803. Ayahnya bernama Muhammad Al-Mahdi, khalifah yang ketiga dan kakaknya, Musa Al-Hadi adalah kalifah yang keempat. Ibunya Jurasyiyah dijuluki Khayzuran berasal dari Yaman.

Setiap orang tua, pasti memimpikan dan mendambahkan kelak kalau punya keturunan dapat menjadi pemimpin seperti Harun Ar-Rasyid.

Semoga kita semua dikaruniai keturunan yang bisa membangkitkan kembali khilafah Islam. Diiringi do’a, semoga putra ku, Harun Al Rasyid, bisa menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya, demi Islam.

Alhamdulillah

http://id.wikipedia.org/wiki/Harun_al-Rashid

SHOLAWAT TARHIM

Posted: 2 Oktober 2011 in berpikir positif
Tag:,

wifesetelah sekian lama terngiang suara dengan sebutan tarhim, yang biasa dikumandangkan 5 menit sebelum sholat subuh, saya baru sadar kalau lantunan syair itu berupa sholawat, yang disyairkan dengan merdunya oleh Syeh Mahmud Al-Husairi, ketua Jum’iyyatul Qurro’ di Mesir yang merupakan ciptaannya sendiri. semakin diresapi, semakin kecil arti diri kita tanpa adanya pertolongan(syafa’at) dari Rosulullah SAW. “,,,Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur,, Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu dan engkau menjadi imam,,”

begitu merdu, mengundang syahdu untuk meresapi betapa besar ciptaanNya melalui keagungan Nabi Muhammad SAW. seperti penjelasan Cak Nun tentang sholawat tarhim itu sendiri, mengandung makna “,,Diri kita ini kan tidak cukup bisa diandalkan nanti di akhirat.. oleh karena itu Shalawat sama dengan Gondelan klambine Kanjeng Nabi karena beliaulah yang bisa kita andalkan nantinya…”

Sholawat dan salam selalu tercurah untuk Rosulullah. Alhamdulillah, masih diberi nikamat Iman dan sehat untuk selalu bersyukur dan ‘membaca’ apa yang sudah tersirat dan tersurat dalam Sunnahtullah.

berikut syair Sholawat tarhim yang selalu membuat tubuh ini selalu tergetar setiap mendengarnya,,

Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaayk

Yaa imaamal mujaahidiin yaa Rasuulallaah

Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaayk

Yaa naashiral hudaa yaa khayra khalqillaaah

Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaayk

Yaa naashiral haqqi yaa Rasuulallaah

Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaayk

Yaa Man asraa bikal muhayminu laylan nilta maa nilta wal-anaamu niyaamu

Wa taqaddamta lish-shalaati fashallaa kulu man fis-samaai wa antal imaamu

Wa ilal muntahaa rufi’ta kariiman

Wa ilal muntahaa rufi’ta kariiman wa sai’tan nidaa ‘alaykas salaam

Yaa kariimal akhlaaq yaa Rasuulallaah

Shallallaahu ‘alayka wa ‘alaa aalika wa ashhaabika ajma’iin

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu

duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu

duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik

Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu

Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu

Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi

Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur

Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu

dan engkau menjadi imam

Engkau diberangkatkan ke Sitratul Muntaha karena kemulianmu

dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu

Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah

Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.

Mumpung masih berada di bulan yang penuh berkah ini ijinkan saya mengucapkan TAQOBBAL ALLAAHU MINNA WA MINKUM, SHIYAMANA WA SHIAYAMAKUM,, maaf lahir dan batin untuk segala khilaf.

sedikit mengulas tentang adanya perbedaan 1 syawal 1432H. saya sebagai umat islam, merasa ada yang salah dengan sistem yang dipakai di negara ini (dalam hal ini penentuan 1 syawal). bukannya saya tidak setuju dengan adanya perbedaan (yang menurut sebagian besar pemimpin negeri in adalah berkah dan anugrah), tapi dilihat dulu perbedaan tentang apa dan kerena apa perbedaan itu. dan selalu berlidung pada “Perbedaan itu indah, mari saling menghormati”.

perbedaan yang dimaklumi itu cuma ada di sistem demokrasi, yang dengan enaknya mengakomodir semua perbedaan tanpa menelaah terlebih dahulu kemaslahatannya, asal disetujui kebanyakan orang, maka itu dianggap suatu kebenaran. kita ini umat islam, mempunyai sistem dan aturan sendiri baik yang tersirat maupun yang tersurat. Allah SWT sudah menggariskan semua dalam Al-qura’an dan Sunnah Rosul. Seharusnya sebagai umat islam kita menjaga sistem itu bukan mengikuti sistem kafir (demokrasi).

islam tidak mengenal demokrasi, karena aturan adalah aturan, tidak bisa ditawar dan diganggu gugat. secara kasat mata saja, apabila suatu aturan dapat digonta-ganti maka tak akan ada kebenaran karena syarat benar adalah mutlak, bersifat menyeluruh dan dapat dibuktikan. yang terjadi di indonesia adalah penyesuaian, bukan kebenaran.

apa bedanya negara indonesia dengan umatnya nabi Ibrahim A.S? umat nabi ibrahim membuat patung kemudian disembah, negara indonesia, membuat aturan untuk dilaksanakan (ditaati) sendiri. Allah menciptakan langit dan bumi sudah membuat rule nya, dari awal sampai akhir, karena Allah adalah sebaik-baik pencipta. Dalam penciptaan manusia pun, Allah menyertakan manual book (Al-Qur’an), apabila kita meragukan manual book itu, maka secara otomatis kita juga meragukan Allah sebagai sang pencipta.

kita beranggapan bahwa Al-quran sudah tak relevan untuk diterapkan sebagai aturan maka kita berusaha membuat tandingannya berupa aturan-aturan yang sering dilandasi hawa nafsu. kita tak sadar, dengan penciptaan aturan-aturan itu, maka kita juga meragukan Allah. lalu, dimana kita menempatkan Allah?

Lakum diinukum waliyadin,,

mungkin judul diatas sedikit menyitir film besutan deddy mizwar yang sempat tayang beberapa waktu lalu. kalau boleh dibilang lucu, memang lucu, sangat lucu hingga saya sendiri sampai lupa cara tertawa untuk mengekspresikan kelucuan tersebut. negeri yang katanya kaya akan sumber daya alam ‘gemah ripa loh jinawi’ tidak bisa hidup atau menghidupi dirinya sendiri, bahkan benyak bergantung pada negara lain.

semisal contoh beberapa waktu lalu saat muncul isu penyiksaan sapi dari australia di RPH indonesia, australia langsung menghentikan ekspor sapi ke indonesia, kita sudah kalang kabut, seakan-akan kita akan mati kalau tak ada sapi dari australia. okelah, bagi yang tahu seluk beluk perdagangan sapi, memang tak mudah mencari solusi yang cepat dan tepat untuk menanggulangi kebutuhan akan daging sapi dalam waktu singkat. itu yang saya bilang lucu karena kesalahan ini selalu berulang, kebanyakan hanya memikirkan masalahnya saja tanpa berpikir solusi yang tepat. tanpa ada isu penyiksaan sapi pun, seharusnya kita sudah mengantisipasi kemungkinan tidak adanya supply sapi australia, entah itu bagaimana caranya. pertanyaannya adalah, apakah tidak ada yang bisa mengembangbiakkan sapi di negeri subur ini?? saya yakin setiap daerah di indonesia bisa dijadikan peternakan sapi. “tapi tak ada yang mau”

itu hanya sedikit contoh, belum lagi masalah klasik, korupsi, TKI, pengelolaan sumber daya alam, dll. tak ada ketegasan pemerintah untuk mengurainya, tak ada tujuan yang jelas, semua hanya retorika. oke, semua sudah ada palanningnya, tapi realisasinya NOL besar. tak ada prioritas kerja yang harus diselesaikan lebih dahulu, gak ada yang terfokus, semua dikerjakan dengan hasil yang tentunya nihil. contoh, pemberantasan korupsi, kita selamanya tak akan bisa tahu ujung dari sebuah simpul yang sangat mbuletisasi. seperti yang disampaikan ketua MK, mahfud MD. para pemimpin kita saling menyandera kepentingan, sehingga tak akan ada kasus korupsi yang benar-benar bisa diselesaikan di negeri ini.

mungkin sedikit membandingkan dengan negara iran. benar adanya kalau mereka kaya minyak, tapi mereka tak punya sumber daya alam lain yang melimpah seperti kita, tapi mereka berani menantang amerika dalam kebijakan nuklirnya. di bawah presiden mahmoud ahmadinejad, iran punya posisi tawar yang tinggi, karena mereka tegas dan tak bergantung pada negara lain. sedangkan di indonesia, itu tak akan terjadi. banyak yang harus dipertimbangkan, dan posisi tawar kita selalu berada dibawah. seakan-akan kita tak bisa hidup sendiri, harus bergantung pada negara lain.

apakah tak ada orang pintar di indonesia yang bisa mengurus dan mengelola kekayaan alam kita? pertanyaan yang sering terdengar tapi tak pernah ada solusi. bukannya tidak ada, tapi kita sudah berada di tangan yang salah sebelumnya. ya, salah, bahkan parah dan semakin parah dari tahun ke tahun. selama pemerintahan masih ada orang-orang yang tak punya gagasan untuk maju, selalu oportunis dan tidak tegas, maka niscaya seberapapun banyak ide yang keluar tak akan menghasilkan apa-apa.

ya, semakin lucu aja negeri ini. ada kisah koruptor yang lari, tahanan yang bisa keluar masuk bui, banyaknya orang stres karena ekonomi. aku sampai lupa cara tertawa, karena memang terlalu lucu.  apakah tak ada ‘mahmod ahmadinejad’ di indoesia yang bisa jadi pemimpin?.

SEBUAH KISAH TENTANG PARADIGMA DALAM MENCARI UANG

Disuatu Lembah Italy, Zaman dahulu kala sekitar tahun 1801, ada 2 orang sahabat yang tinggal di lembah itu, yang pertama bernama Pablo dan yang kedua bernama Bruno. Ke-2 anak muda itu merupakan orang-orang yang berkualitas, mempunyai semangat dan ambisi yang kuat untuk menggapai tujuannya, serta memiliki cita-cita yang tinggi.

Mereka berdua pun berkhayal, berharap suatu hari nanti mereka akan menjadi orang yang paling kaya didesa itu. Mereka berdua sama-sama cemerlang dan sangat tekun dalam bekerja, yang
mereka perlu hanyalah kesempatan mewujudkan impian itu. Seperti kata pepatah “KESIAPAN
haruslah bertemu dengan KESEMPATAN”. Saat ini yang mereka tunggu adalah kesempatan emas agar apa yang diinginkan dan dicita-citakan segera terwujud.

Pada suatu hari kesempatan emas yang mereka tunggu selama ini akhirnya datang, kepala desa memberi pekerjaan kepada mereka untuk mengangkut air dari danau ke desanya untuk memenuhi kebutuhan air warga desanya. Setiap ember yang terisi penuh, mereka akan menerima bayaran 1 sen. Jadi, kalau satu hari bisa mengangkut 20 ember maka mereka akan memperoleh penghasilan 20 sen.

Tanpa menunggu perintah selanjutnya, keduanya langsung membawa 2 buah ember dan segera menuju danau. Sepanjang siang keduanya mengangkut air dengan menggunakan ember. Menjelang sore, tempat penampungan air sudah penuh sampai kepermukaan dan kepala desa pun menggaji kedua pemuda tersebut berdasarkan jumlah ember yang mereka bawa.

“Woouw… Apa yang aku cita-citakan selama ini akan segera terwujud!” teriak Bruno gembira. “Rasanya sulit dipercaya, kita mendapatkan penghasilan sebanyak ini”. Namun Pablo tidak demikian,Dia tidak begitu yakin kalo pekerjaannya yakni mengangkat ember dari danau ke desa akan membuatnya cepat kaya. Setibanya dirumah Pablo merasakan Punggungnya nyeri dan kedua telapak tangannya lecet-lecet, dan itu semua disebabkan karena sepanjang hari tadi Pablo membawa 2 ember berat berisi air penuh yang dibawanya bolak balik dari sungai ke desa. Begitu pagi tiba, perasaan Pablo mulai kecut karena harus berangkat kerja, dia tidak ingin punggung dan
tangannya bermasalah lagi. Lalu Pablo mulai berpikir keras bagaimana caranya memindahkan air dari danau ke desanya tanpa harus terluka, tanpa harus menanggung rasa nyeri dipunggung, tanpa harus melakukan pekerjaan itu seumur hidupnya. (lebih…)