DEMOKRASI BUKAN SISTEM ISLAM

Posted: 31 Agustus 2011 in berpikir positif
Tag:,

Mumpung masih berada di bulan yang penuh berkah ini ijinkan saya mengucapkan TAQOBBAL ALLAAHU MINNA WA MINKUM, SHIYAMANA WA SHIAYAMAKUM,, maaf lahir dan batin untuk segala khilaf.

sedikit mengulas tentang adanya perbedaan 1 syawal 1432H. saya sebagai umat islam, merasa ada yang salah dengan sistem yang dipakai di negara ini (dalam hal ini penentuan 1 syawal). bukannya saya tidak setuju dengan adanya perbedaan (yang menurut sebagian besar pemimpin negeri in adalah berkah dan anugrah), tapi dilihat dulu perbedaan tentang apa dan kerena apa perbedaan itu. dan selalu berlidung pada “Perbedaan itu indah, mari saling menghormati”.

perbedaan yang dimaklumi itu cuma ada di sistem demokrasi, yang dengan enaknya mengakomodir semua perbedaan tanpa menelaah terlebih dahulu kemaslahatannya, asal disetujui kebanyakan orang, maka itu dianggap suatu kebenaran. kita ini umat islam, mempunyai sistem dan aturan sendiri baik yang tersirat maupun yang tersurat. Allah SWT sudah menggariskan semua dalam Al-qura’an dan Sunnah Rosul. Seharusnya sebagai umat islam kita menjaga sistem itu bukan mengikuti sistem kafir (demokrasi).

islam tidak mengenal demokrasi, karena aturan adalah aturan, tidak bisa ditawar dan diganggu gugat. secara kasat mata saja, apabila suatu aturan dapat digonta-ganti maka tak akan ada kebenaran karena syarat benar adalah mutlak, bersifat menyeluruh dan dapat dibuktikan. yang terjadi di indonesia adalah penyesuaian, bukan kebenaran.

apa bedanya negara indonesia dengan umatnya nabi Ibrahim A.S? umat nabi ibrahim membuat patung kemudian disembah, negara indonesia, membuat aturan untuk dilaksanakan (ditaati) sendiri. Allah menciptakan langit dan bumi sudah membuat rule nya, dari awal sampai akhir, karena Allah adalah sebaik-baik pencipta. Dalam penciptaan manusia pun, Allah menyertakan manual book (Al-Qur’an), apabila kita meragukan manual book itu, maka secara otomatis kita juga meragukan Allah sebagai sang pencipta.

kita beranggapan bahwa Al-quran sudah tak relevan untuk diterapkan sebagai aturan maka kita berusaha membuat tandingannya berupa aturan-aturan yang sering dilandasi hawa nafsu. kita tak sadar, dengan penciptaan aturan-aturan itu, maka kita juga meragukan Allah. lalu, dimana kita menempatkan Allah?

Lakum diinukum waliyadin,,

Komentar
  1. gajah_pesing mengatakan:

    minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s