STOP THE VIOLENCE ON CHILDREN

Posted: 19 Agustus 2010 in berpikir positif
Tag:, , , ,

Novi yang berumur 3 tahun sedang bermain-main sendiri di pekarangan rumahnya, saat pembantunya sibuk menjemur pakaian di belakang rumah. mulanya dia menggambar di atas tanah menggunakan lidi. makin lama lidinya makin pendek karena berkali2 patah. lalu ia menemukan sebuah paku berkarat, dan kembali menggambar. Bosan menggambar di tanah, ia pun mulai mencorat-coret tembok pekarangan hingga ke mobil ayahnya yang memang lebih sering diparkir di rumah daripada dibawa ke kantor, karena masih baru.

begitu ayah ibunya pulang kerja, dengan gembira Novi menunjukkan ‘hasil karya’nya kepada ayahnya. Bukan main marahnya sang ayah. Bukan pujian yang Novi dapat, tetapi malah makian dan pukulan keras bertubi-tubi. dipukulnya tangan Novi keras-keras, dengan benda apa saja yang tergeletak di dekatnya. mulai dari mistar yang kemudian patah hingga kayu dan gagang sapu. Ayahnya tak peduli meski Novi
berteriak-teriak kesakitan dan meraung-raung meminta ampun. ayahnya terlalu kalap, sementara ibunya diam membisu menyaksikan semua itu, menganggap seolah apa yang dilakukan suaminya memang sudah seharusnya, sedangkan sang pembantu hanya terisak di sudut ruangan.

Ayahnya berhenti memukul setelah tangannya tak mampu lagi memukul karena
kelelahan. Setelah puas  meluapkan amarahnya, sang ayah menyuruh pembantunya membawa Novi ke kamar.

besoknya, Novi demam, tangannya bengkak dan membiru. ayah dan ibu hanya menyuruh pembantunya mengompres Novi, dan kembali sibuk bekerja. siangnya sang pembantu menelpon dan mengabarkan bahwa tangan Novi semakin bengkak, tapi ayah dan ibu hanya menyuruh pembantunya mengobatinya dengan salep luka.
hingga keesokan harinya, ayah dan ibu tetap pergi bekerja, dan tangan Novi semakin bengkak, lukanya infeksi dan bernanah. Saat orang tuanya ditelpon kembali, mereka menyuruh sang pembantu membawanya ke dokter.

tiba di dokter, dokter merujuknya ke rumah sakit. Hingga saat Novi tiba di sana, tangannya sudah tidak bisa diobati. akhirnya tangan Novi pun diamputasi, dua-duanya. Ayah ibu menangis dengan sangat menyesal. saat Novi sadar, Novi menangis dan memohon-mohon kepada ayah dan ibu, “Ibu, mana tangan Novi, kenapa tangan Novi diambil? kembalikan tangan Novi, Novi janji tidak akan mencoret mobil ayah lagi. Novi janji tidak akan menggambar lagi. kembalikan tangan Novi.” ayah dan ibunya tak sanggup berkata apa pun, dalam hati mereka sungguh-sungguh menyesalinya, penyesalan yang terlambat dan tidak ada artinya.

———————————————————————————–

kisah di atas hanya sebuah cerita, kita sebagai ayah dan ibu atau calon ayah dan ibu mungkin terkadang terlalu kesal atau jengkel pada “kenakalan” anak kita. yang terkadang dengan menghukumnya dengan hal yang tidak mendidik dan akan memberikan kesan negatif pada anak kita.

cara kita mendidik anak akan menancap dalam ingatannya dan akan terbawa sampai ia dewasa. dalam menghukum anak untuk mengajarkan sikap kedisiplinan hendaknya dengan cara yang bijak dan membawa efek jera pada anak tersebut.

saya setuju dengan Khalil gibran, dalam ‘Sang Nabi’

Anakmu bukan milikmu
Mereka putra putri yang rindu Pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan Bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat boleh kau kunjungi sekalipun dalam impian.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka mnyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam dimasa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah
Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap,,

kita tidak punya hak atas anak kita, anak kita adalah amanah. meski kita yang membesarkan dan merawat mereka, tapi mereka tidak pernah meminta kita untuk melakukan itu. marilah kita jaga amanah kita, dengan memberikan bekal yang diperlukan anak kita dan biarkan mereka menentukan jalan mereka sendiri.

Komentar
  1. iLLa mengatakan:

    terharu baca puisi khalil gibran itu
    sebenarnya memang tidak ada anak2 yg terlahir ‘nakal’
    mereka itu masih dalam keadaan suci, belum berpikir macam2. adalah tugas orang tua untuk mengarahkan anaknya, tentunya dengan cara yg baik pula, dan tidak dengan kekerasan🙂
    *belum jadi orang tua, jadi ga bisa komen banyak, hehe..

  2. gajah_pesing mengatakan:

    hentikan kekerasan pada anak kecil

  3. sangpenjelajahmalam mengatakan:

    Wanine karo arek cilik….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s