SEBUAH KONKLUSI

Posted: 13 Maret 2010 in warna warni
Tag:,

Sebelum semua berlalu dan terjawab dengan sendirinya, aku ada sedikit konklusi untuk semua yang aku alami. Pertama, aku kurang pintar dalam menyikapi kejadian yang terjadi padaku dan di sekeliling aku, penggunaan logika ku tak berjalan sebagaimana mestinya, seakan semua tertutup kesenangan sesaat. Kedua, tak ada yang berupaya membangunkan aku atau mengatakan padaku, kedua hal ini saling mempengaruhi, kalau orang lagi tak bisa menggunakan logika maka semua yang aku lakukan seperti orang bodoh di mata orang lain, orang di sekelingku Cuma bilang ‘jangan dilakukan, itu tak baik’, tapi tak ada yang memberi alasan pasti. Seharusnya kalau memang jadi teman, bicara apa yang sebenarnya terjadi dan bukan malah tertawa di belakang. Mungkin g tertawa di belakang, tapi membiarkan aku dalam kebodohan adalah maknanya sama dengan menertawakan aku.

Untuk menjabarkan yang kedua, aku ada beberapa argument yang bisa dipakai, untuk menggambarkannya juga sangat jelas. Memberi tahu perbuatan orang lain itu bukan suatu kejahatan tapi untuk berjaga-jaga supaya tidak kena dengan perbuatan yang sama, tapi tidak ada yang melakukan itu. Dibiarkan saja dalam kebodohan sampai benar2 jatuh, setelah itu ditertawakan. Bisa digaris bawahi, di sini tak ada teman yang benar2 jadi teman, Cuma kepentingan. Kalau ada kepentingan berarti jadi teman, selebihnya tak ada.

Selama ini aku sering kali suka pada wanita yang sudah punya pacar, tapi aku tak kenal ma pacarnya, makanya aku enak aja, tergantung wanitanya mau buka hati atau tidak. Semoga aku tak akan suka pada wanita yang jadi pacar temanku, psikologinya akan tambah rumit kalau itu terjadi karena bukan Cuma dengan si wanita aku berinteraksi tapi juga dengan temanku. Penjelasannya akan tambah rumit kalau si wanita juga lagi mabok, dia tak akan sadar sedang bermain-main dengan keduanya. Aku akan bilang sama temanku tentang tingkah ceweknya, aku tak akan sedikitpun berniat untuk bermain dengan wanita itu, itu namanya teman. Kalau malah sengaja mendekati dan pingin memiliki, meski berniat main-main, itu bukan teman namanya. Makanya itu, tak ada yang namanya teman, yang ada hanya kepentingan.

figlia del cane, itu yang ketiga.

Kalaupun dengan alasan perempuannya belum jadi pacar, ato perempuannya yang mau, alangkah baiknya jadi seorang teman kalau mengingatkan temannya yang lain dengan cara yang semestinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s