hukum pygmalion

Posted: 20 Januari 2010 in berpikir positif
Tag:, ,

Hukum Pygmalion – Hukum Berpikir Positif
Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus, tetapi bukan kecakapannya itu yang menjadikannya ia dakenal dan disenangi temannya. Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.
Contoh cara pikir Pygmalion:
Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata “untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.”
Ketika ada seorang pembeli patung menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik,”kikir betul orang itu,” tetapi Pygmalion berkata, “mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan yang lain yang lebih perlu”.
Ketika anak-anak mencuri apel di kebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”
Itulah pola pandang Pygmalion, ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain. Sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.
Pada suatu hari, Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, “ah, sebagus-bagusnya patung, itu Cuma patung, bukan isterimu”.
Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang ada di gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk member anugrah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu, yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri yunani.
Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk menggambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang sesuatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.
Contoh:
Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itu pun akan menjadi ramah terhadap kita.
Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya kita mendapatkan separuh keberhasilan.
Dampak pola pikir positif itu disebut dampak Pygmalion.
Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling atau ramalan tergenapi, baik positif atau negative.
Kalau kita menganggap tatangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada wawal usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain, kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.
Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik, tetapi jika kita berpikir buruk, kita akan menjadi curiga, “barangkali ia sedang memcoba membujuk,” atau kita mengomel, “ah, hadiahnya cum barang murah.” Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri. Kita menjadi mudah curiga, kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, “ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi pada kita.”
Warna hidup memang tergantung dari warna kacamata yang kita pakai. Kalau kita memakai kacamata kelabu, hidup kita menjadi kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup sesuatu akan tampak cerah. Kacamata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kacamata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.
Hidup kita akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan, berpikir baik tentang Tuhan.
Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat, kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion. Begitulah.
MAKE SURE YOU ARE PYGMALION and the world will be filled with positive people only,,,, how nice!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s